#Attribution1 {height:0px; visibility:hidden; display:none}

Breaking News

Kamis, 27 Agustus 2026

Menatap Peran Strategis Pemuda Di Era Disrupsi Global

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Feri Andi Suseko


Lini Indonesia, Malang - Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ditengah derasnya arus globalisasi dan keterbukaan informasi bukanlah perkara mudah. 

Konsep Wawasan Nusantara sebagai pandangan politik bangsa yang menempatkan tanah, air, dan udara dalam satu kesatuan utuh mencakup seluruh aspek politik, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan kini berhadapan langsung dengan dinamika zaman yang kian kompleks. 

Dalam sebuah kesempatan, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Feri Andi Suseko menjelaskan, dengan komprehensif pentingnya memperkokoh rasa nasionalisme di kalangan generasi muda guna menjawab tantangan zaman tanpa mengorbankan identitas keberagaman Suku, Agama, Ras dan Budaya Bangsa.

Feri menegaskan, bahwa akar historis dan filosofis kebangsaan Indonesia sangat kuat, terikat pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diangkat dari Kitab "Sutasoma" karya Mpu Tantular dan kemudian dirumuskan oleh Muhammad Yamin sebagai motto resmi negara. 

“Semboyan ini berfungsi mengatur harmonisasi di tengah perbedaan Suku, Ras, Agama, dan Budaya," Kamis (27/08/2026)..

"Bersama Empat Pilar Kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, Bangsa Indonesia sejatinya memiliki benteng ideologis yang kokoh untuk memelihara Persatuan Nasional dari ancaman disintegrasi,” ucapnya.

Namun demikian, Ia menekankan bahwa ketahanan kebhinekaan Indonesia tidak luput dari berbagai kerawanan sosial yang dipicu faktor internal maupun eksternal.

Di tingkat internal, ketimpangan struktur ekonomi dimana masyarakat kelas bawah masih mendominasi dapat menjadi pemicu sensitif timbulnya potensi konflik horisontal. 

“Sementara dari aspek eksternal, kompetisi politik internasional, pengaruh arus kapitalisme, serta dominasi budaya luar berisiko mengikis nilai-nilai luhur kebangsaan apabila tidak dibentengi dengan filter ideologi yang tangguh," ujarnya.

Selanjutnya, Feri mengungkapkan bahwa karakter media sosial yang bebas dan serba cepat memunculkan ancaman serius berupa penyebaran berita bohong (Hoax), ujaran kebencian (Hate Speech), hingga propaganda paham radikalisme dan terorisme. 

“Oleh sebab itu, masyarakat khususnya generasi muda dituntut untuk mengedepankan literasi digital, bersikap kritis, serta selalu memverifikasi setiap informasi sebelum menyebarkannya demi mencegah keretakan sosial,” imbuhnya.

Lebih jauh, Ia memaparkan bahaya radikalisme dan terorisme sebagai ancaman nyata yang mengingkari hakikat kebhinekaan. 

Paham radikal cenderung memaksakan kehendak secara ekstrem, mengklaim kebenaran tunggal (Truth Claim) dan mengusung fanatisme sempit yang mengikis sikap toleransi antar sesama.

Penanganannya membutuhkan pendekatan sistematis dan integratif, mulai dari pencegahan sejak dini di lingkungan pendidikan hingga tindakan tegas terhadap segala bentuk tindakan provokatif yang berpotensi memecah belah bangsa.

Guna menangkal berbagai ancaman tersebut, Feri menekankan perlunya kolaborasi sinergis antar-elemen masyarakat. 

Lembaga pendidikan berkewajiban menanamkan pemahaman bahwa perbedaan adalah modal keharmonisan yang saling melengkapi. 

Sementara itu, Tokoh masyarakat, Agama dan Pemuda, harus konsisten memberikan keteladanan nyata dalam merawat nilai-nilai toleransi di kehidupan sehari-hari. 

“Dari sisi regulator, jajaran pemerintah (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) bertugas menguatkan regulasi serta mengalokasikan dukungan anggaran guna menjamin iklim kehidupan yang inklusif dan kondusif” ucap politikus Gerindra ini.

Menutup penjelasan, Feri Andi Suseko menyampaikan pesan kunci bahwa kemajemukan bangsa adalah sumber kekayaan bernilai tinggi yang wajib dipelihara bersama. 

Bhinneka Tunggal Ika harus tetap dipertahankan sebagai konsensus nasional dalam menghadapi dinamika perubahan global. 

“Menjaga dan mempertahankan NKRI dari ancaman radikalisme adalah tanggung-jawab seluruh komponen bangsa, dimana peran aktif dan kepedulian mahasiswa serta pemuda menjadi kunci utama penggerak benteng ketahanan nasional,” pungkasnya.

(Dedy)


Share:

0 komentar:

Posting Komentar