Lini Indonesia, Malang - Upaya untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, serta kesejahteraan petani di Kabupaten Malang terus didorong melalui strategi penguatan agribisnis komoditas unggulan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Muslimin, S.Pd., M.H., menegaskan, penguatan sektor agribisnis bawang merah tidak boleh lagi hanya terfokus pada ranah peningkatan produksi semata, Kamis (27/08/2026).
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Malang bersama Kementerian Pertanian perlu mengambil peran penting dalam memperkuat seluruh mata rantai usaha, mulai dari sektor hulu, proses budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan produk, hingga efisiensi rantai pemasaran.
Pada aspek hulu dan budidaya, Muslimin menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas harus ditunjang oleh kepastian subsidi sarana produksi, bantuan benih varietas unggul, pupuk, serta pemeliharaan infrastruktur seperti irigasi dan pompanisasi air.
"Dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, perbaikan kualitas benih dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), potensi produktivitas bawang merah sebenarnya mampu dioptimalkan hingga melampaui 30 ton per-hektar," ujar Muslimin.
Tidak hanya berfokus pada teknik tanam, politisi DPRD Kabupaten Malang tersebut juga menyoroti krusialnya penguatan sektor hilir melalui pembentukan kawasan sentra terpadu dan pengembangan kelembagaan petani.
Muslimin menyampaikan, Kelompok Tani (Poktan) perlu ditingkatkan kapasitasnya menjadi bentuk koperasi agar memiliki posisi tawar yang kuat serta mampu melakukan pembelian sarana input dan kontrak pemasaran secara kolektif.
Selain itu, Ia menekankan perlunya fasilitas gudang penyimpanan atau Sistem Resi Gudang serta pelatihan curing (Pengeringan).
“Hal ini bertujuan agar petani tidak dirugikan oleh jatuhnya harga saat panen raya dan memiliki opsi melakukan hilirisasi produk menjadi bawang goreng atau bumbu instan kemasan,” imbuhnya.
Guna menjaga stabilitas pendapatan petani, Muslimin mendorong pemerintah daerah untuk mempertemukan kelompok tani secara langsung dengan para offtaker, mulai dari pasar modern, industri makanan, hingga jaringan hotel dan restoran.
"Kemitraan pasar secara langsung ini sangat penting untuk memotong rantai pasok yang terlalu panjang antara petani dan pedagang besar, sehingga margin keuntungan yang diterima petani bisa jauh lebih besar," tegas Muslimin.
Ia juga mengusulkan pemanfaatan digitalisasi agribisnis melalui aplikasi pencatatan jadwal tanam dan panen guna mencegah penumpukan produksi pada waktu yang bersamaan.
Muslimin mencontohkan keberhasilan program integrasi kawasan seperti program UPLAND di Kabupaten Malang yang terbukti mampu mendongkrak produktivitas bawang merah secara signifikan.
Beliau mengungkapkan, sinergi antara kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) pembiayaan pertanian, infrastruktur yang memadai danpendampingan berkelanjutan adalah kunci utama.
"Model penguatan ideal yang harus kita wujudkan adalah rantai utuh dari ketersediaan benih hingga penciptaan nilai tambah, sehingga tujuan akhir kita untuk meningkatkan kesejahteraan petani dapat terwujud secara nyata," pungkasnya.
(Dedy)






0 komentar:
Posting Komentar