#Attribution1 {height:0px; visibility:hidden; display:none}

Breaking News

Warga Beserta Tokoh Masyarakat Bongkar Bisnis Esek-esek Berkedok Dijadikan LC

Pasuruan, LINDO - Praktek perdagangan manusia (Human Traffiking) anak dibawah umur untuk dijadikan LC sebagai pemuas laki-laki hidung belang masih marak dan berulang kali terjadi di dalam masyarakat.

Kapolres Madiun Sambangi Masjid Terowongan, Ajak Jamaah Jaga Kamtibmas Lewat Jum’at Curhat

Lini Indonesia, Madiun – Kapolres Madiun AKBP Kemas Indra Natanegara, S.H., S.I.K., M.Si., bersama Pejabat Utama Polres Madiun melaksanakan ibadah Sholat Jum’at sekaligus kegiatan Jum’at Curhat di Masjid Terowongan, Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, pada Jum'at (12/12/2025)

Jelang Nataru 2026, Polres Pelabuhan Tanjung Perak Gelar Cek Kesehatan Gratis Di Gate Pelabuhan Jamrud

Lini Indonesia, Surabaya - Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak bergerak cepat memastikan keamanan dan keselamatan transportasi publik

Do'a Bersama HUT Reserse, Kapolres : Spiritual Perkuat Mental

Lini Indonesia, Pasuruan - Polres Pasuruan memperingati Hari Jadi Reserse Ke-78 dengan menggelar doa bersama dan santunan anak yatim di Masjid Polres Pasuruan, Kamis (4/12/2025)

Patroli Jalan Kaki Kapolrestabes Surabaya Di KBS, Bagi Cokelat Dan Jamin Keamanan Pengunjung

Lini Indonesia, Surabaya – Suasana Lebaran masih terasa di Surabaya. H+5 Idul Fitri, Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Lutfi Sulistiawan, tak hanya memimpin patroli rutin, tetapi juga melakukan patroli kaki di Kebun Binatang Surabaya (KBS) pada Jum'at siang (3/4/2025)

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2026

Gelar Wayang Cangkrukan, Polres Kediri Kota Edukasi Kamtibmas Lewat Seni Budaya


Lini Indonesia, Kediri Kota - Polres Kediri Kota Polda Jatim terus berinovasi dalam membangun kedekatan dengan masyarakat. 

Salah satunya melalui Wayang Cangkrukan, sebuah pertunjukan seni budaya yang dikemas sebagai media penyampaian pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Kali ini Kegiatan yang digelar di Kantor Kecamatan Kota, Jalan A. Yani, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri pada Jumat malam (17/7/2026) mengusung lakon "Pager Mangkok Luweh Kuat Ketimbang Pager Tembok".

Lakon tersebut mengandung filosofi bahwa kepedulian dan kebersamaan antarwarga merupakan benteng terkuat dalam menjaga keamanan lingkungan.

Dalam pagelaran wayang yang dibawakan Ki Dalang Kompol Bowo Wicaksono, S.Sos yang juga sebagai Kapolsek Kota Kediri tersebut, masyarakat tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga diajak berdialog tentang pentingnya menjaga kerukunan, memperkuat silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian sosial sebagai fondasi terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif.

"Melalui Wayang Cangkrukan ini kita bisa saling bertukar informasi dengan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas". 

"Harapannya, kita bersama-sama mewujudkan Kediri yang mapan, Kediri yang ngangeni, aman, dan kondusif," ujar Kompol Bowo.

Ia menjelaskan, filosofi "Pager Mangkok Luweh Kuat Ketimbang Pager Tembok" mengajarkan bahwa hubungan baik antartetangga, budaya saling membantu, serta kepedulian terhadap sesama jauh lebih kuat dibandingkan sekadar pembatas fisik. 

Menurutnya, lingkungan yang dihuni masyarakat yang guyub dan rukun akan lebih tangguh dalam mencegah berbagai potensi gangguan keamanan.

Pesan tersebut diperkuat melalui lakon wayang yang menggambarkan kehidupan dua kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi berbeda. 

Alur cerita memperlihatkan bagaimana himpitan ekonomi dapat mendorong seseorang melakukan pelanggaran hukum. 

Namun berkat kesigapan Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta tumbuhnya kepedulian dari warga yang lebih mampu untuk berbagi, konflik dapat diselesaikan tanpa menimbulkan perpecahan.

Kompol Bowo menuturkan, pemanfaatan seni wayang merupakan bagian dari pendekatan art policing, yakni strategi pemolisian yang mengedepankan seni dan budaya sebagai media edukasi serta komunikasi dengan masyarakat.

"Polri hadir untuk masyarakat. Kami ingin lebih dekat dengan warga melalui pendekatan budaya sehingga pesan-pesan Kamtibmas dapat diterima dengan lebih mudah, sekaligus ikut melestarikan budaya lokal yang menjadi identitas Kota Kediri,"terang Kompol Bowo.

Melalui kegiatan ini, Polres Kediri Kota berharap sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban. 

Dengan semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan komunikasi yang baik, diharapkan tercipta lingkungan yang aman, damai, dan harmonis bagi seluruh masyarakat.

Acara tersebut dihadiri Kabag Ops Polres Kediri Kota, Kabag SDM Polres Kediri Kota, Kasat Binmas Polres Kediri Kota, Kasat Lantas Polres Kediri Kota, Camat Kota, Batuud Koramil 0809/01, para kepala kelurahan Se-kecamatan Kota, Babinsa dan Bhabin Kamtibmas, perwakilan Ketua RT/RW, Ketua LPMK, Karang Taruna, Koordinator Linmas, serta tokoh masyarakat.

(Dedy) 

Share:

Selasa, 14 Juli 2026

Polsanak : Polres Lumajang Tanamkan Budaya Tertib Lalu Lintas Kepada Anak Sejak Usia Dini


Lini Indonesia, Lumajang – Melalui program Polisi Sahabat Anak (Polsanak) personel Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Lumajang Polda Jatim mengenalkan berbagai aturan dasar Berlalu Lintas kepada para peserta didik dengan metode yang menyenangkan, interaktif, dan mudah dipahami sesuai usia mereka.

Hal itu seperti dilakukan pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dimanfaatkan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lumajang untuk menanamkan budaya tertib Berlalu Lintas kepada anak-anak sejak usia dini.

Kegiatan edukasi tersebut digelar di PAUD Muslimat NU Abasya, Desa Kunir Kidul, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, Senin (13/7/2026).

Materi yang diberikan meliputi pengenalan rambu-rambu Lalu Lintas, pentingnya disiplin di jalan raya, hingga edukasi mengenai penggunaan helm yang benar saat dibonceng sepeda motor.

Selain itu, petugas juga mengingatkan bahwa anak-anak yang belum memenuhi syarat usia dilarang mengendarai kendaraan bermotor.

Tidak hanya menyasar para siswa, Satlantas Polres Lumajang Polda Jatim juga membagikan brosur imbauan tertib Berlalu Lintas kepada kepala sekolah, guru, serta orang tua dan wali murid.

Kasat Lantas Polres Lumajang AKP Yulian Putra Prasviawan mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk karakter disiplin Berlalu Lintas sejak dini.

"Pendidikan keselamatan berlalu lintas perlu dikenalkan sejak anak masih berada di bangku pendidikan usia dini agar tumbuh menjadi kebiasaan positif hingga dewasa," ujar AKP Yulian.

Menurutnya, pembentukan karakter disiplin tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus dimulai sejak usia dini melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan.

"Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan. Mereka mampu memahami bahwa mematuhi aturan Lalu Lintas merupakan bagian dari menjaga keselamatan diri sendiri maupun orang lain," ungkap AKP Yulian.

Ia menegaskan pendidikan keselamatan tidak hanya ditujukan kepada siswa tingkat SMP dan SMA, tetapi juga perlu diberikan kepada anak-anak usia dini agar nilai-nilai disiplin sudah tertanam sebelum mereka tumbuh dewasa.

Melalui pendekatan yang edukatif dan humanis, Satlantas Polres Lumajang optimistis kesadaran berlalu lintas dapat dibangun sejak usia dini sehingga mendukung terwujudnya Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas (Kamseltibcar Lantas) yang kondusif di wilayah Kabupaten Lumajang. 

(Sugianto) 

Share:

Minggu, 28 Juni 2026

500 Penari Semarakkan Segoro Topeng Kaliwungu, Kapolres Lumajang Dorong Pelestarian Budaya


Lini Indonesia, Lumajang – Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar, S.H., M.H., S.I.K. bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menghadiri Festival Segoro Topeng Kaliwungu 2026 yang digelar di kawasan Pantai Watu Pecak, Dusun Krajan Dua, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Minggu (28/6/2026).

Festival budaya yang menjadi bagian dari agenda Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia itu dipadati ribuan masyarakat dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara.



Kehadiran para pengunjung menambah semarak salah satu agenda budaya terbesar di Kabupaten Lumajang tersebut.

Tahun ini, Festival Segoro Topeng Kaliwungu mengusung tema "Lamadjang: The Land of Glory" dengan menampilkan tarian kolosal yang diperagakan sekitar 500 penari.



Pertunjukan tersebut mengisahkan lahirnya Negeri Lamadjang melalui perpaduan seni tari, musik tradisional, dan kekayaan budaya lokal yang merefleksikan kejayaan Kerajaan Lamajang Tigang Njuru.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, festival ini juga menjadi sarana pelestarian Seni Topeng Kaliwungu sebagai warisan budaya daerah, memperkuat identitas budaya Lumajang, sekaligus mempromosikan potensi pariwisata kepada masyarakat luas.



Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar mengatakan, Polri memberikan dukungan penuh terhadap setiap kegiatan positif yang mampu memperkuat persatuan masyarakat, melestarikan budaya bangsa, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.

Menurutnya, pelaksanaan festival budaya seperti Segoro Topeng Kaliwungu memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjaga kelestarian tradisi, tetapi juga mampu membangkitkan sektor ekonomi kreatif melalui meningkatnya kunjungan wisatawan.

"Festival Segoro Topeng Kaliwungu merupakan kebanggaan masyarakat Lumajang".



 "Polres Lumajang mendukung penuh kegiatan budaya seperti ini karena menjadi wadah mempererat persatuan, memperkuat kecintaan terhadap budaya bangsa, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat," ujar AKBP Alex Sandy Siregar.

Kapolres menambahkan, Polres Lumajang berkomitmen memberikan pengamanan secara maksimal agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif sehingga masyarakat maupun wisatawan dapat menikmati pertunjukan dengan nyaman.

"Keamanan menjadi faktor penting dalam mendukung suksesnya sebuah event nasional. Kami ingin memastikan seluruh peserta, seniman, dan masyarakat dapat menikmati festival dengan aman sehingga citra Lumajang sebagai daerah tujuan wisata budaya semakin meningkat," tambahnya.



Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan, Festival Segoro Topeng Kaliwungu menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Lumajang di tingkat nasional melalui Karisma Event Nusantara.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat kepada Kabupaten Lumajang merupakan amanah yang harus dijaga dengan menghadirkan pertunjukan budaya yang berkualitas sekaligus melestarikan warisan budaya tak benda.

"Kami diberikan kesempatan oleh kementerian untuk memperkenalkan kisah-kisah Indonesia melalui budaya".



"Ini merupakan warisan budaya tak benda yang harus kami jaga kelestariannya dan terus kami kembangkan sebagai bentuk komitmen kami sebagai daerah penyelenggara Karisma Event Nusantara," ujar Bupati yang akrab disapa Bunda Indah.

Festival Segoro Topeng Kaliwungu tahun ini turut dihadiri Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata RI Marsha Nadila, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur Endah Budi Heryani, Ketua ICCN Korda Jawa Timur Muhammad Anwar, anggota DPR RI, akademisi, tokoh budaya, Mantan Wakil Gubernur Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Lumajang.

(Eksan) 

Share:

Jumat, 19 Juni 2026

Ruwat Air 1 Muharram Di Desa Penanggal Berlangsung Khidmat, Polsek Candipuro Pastikan Situasi Aman

Memperingati 1 Muharram 1448 H), Masyarakat Desa Penanggal Gelar Tradisi Ruwat Air

Lini Indonesia, Lumajang – Tradisi ruwat air dalam rangka 1 Muharram 1448 H (1 Suro) kembali digelar masyarakat Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (18/6/2026) pagi. 

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan wisata Tirtosari View itu berlangsung khidmat dengan pengamanan dan monitoring dari jajaran Polsek Candipuro.

Kapolsek Candipuro AKP Lugito, S.H., menjelaskan, kegiatan adat tahunan tersebut merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat dalam memaknai Tahun Baru Hijriah, sekaligus wujud rasa syukur atas keberadaan sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga.



“Ruwat air ini adalah tradisi masyarakat Desa Penanggal yang dilaksanakan setiap 1 Suro atau 1 Muharram". 

Selain sebagai ungkapan syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga dalam menjaga kelestarian sumber air,” ujar AKP Lugito saat dikonfirmasi di lokasi kegiatan.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 WIB tersebut dihadiri oleh unsur Forkopimcam Candipuro, diantaranya : Camat Candipuro Shela Fasri, S.S.T.P., M.M., Danramil Candipuro Kapten Inf., Sumarno, Kepala Desa Penanggal Cikono, S.H., Perangkat Desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta sekitar 80 warga masyarakat.



"Rangkaian acara diawali dengan prosesi do'a dan pembacaan mantra oleh Tokoh Adat setempat di tepi sumber mata air Tirtosari". 

Setelah itu, warga melaksanakan prosesi simbolis membasuh wajah menggunakan air langsung dari sumber mata air sebagai bentuk Harapan Keselamatan dan Tolak- bala.

Acara kemudian dilanjutkan dengan kembul bujono atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong antar warga.



AKP Lugito menambahkan, pihak Kepolisian bersama unsur TNI dan Pemerintah Kecamatan melakukan pengamanan terbuka dan tertutup guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan kondusif.

“Kami melakukan monitoring sejak awal hingga akhir kegiatan. Alhamdulillah seluruh rangkaian berjalan lancar tanpa gangguan,” ungkapnya.



Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan aturan hukum serta tetap mengedepankan nilai persatuan dan kerukunan masyarakat.

“Tradisi seperti ini memiliki nilai sosial yang kuat, mempererat hubungan antarwarga, dan menjadi bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga bersama,” tambahnya.

Kegiatan ruwat air di Desa Penanggal tersebut berakhir sekitar pukul 08.30 WIB dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif.

(Eksan) 

Share:

Sabtu, 06 Juni 2026

Pembukaan Festival Grebeg Suro 2026, Di Alun-alun Ponorogo

Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita, S.H., (Plt), Resmi Membuka Rangkaian Kegiatan Festival Grebeg Suro 2026

Lini Indonesia, Ponorogo - Grebeg Suro merupakan perayaan dan pesta rakyat tradisional masyarakat Jawa untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Muharram (1 Suro dalam kalender Jawa). 

Perayaan ini merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur, yang diwarnai dengan berbagai kegiatan pelestarian budaya.

Rangkaian perayaan Festival Grebeg Suro 2026, di Kabupaten Ponorogo, resmi dibuka pada Sabtu malam (6/6/2026) di Alun-alun Ponorogo.

Perayaan budaya terbesar di Bumi Reog tersebut menghadirkan total 30 agenda kegiatan yang memadukan seni budaya, tradisi, pameran UMKM, hingga kegiatan keagamaan.


Sekelompok Penari, Menarikan Tarian Kolosal Pada Acara Pembukaan Grebeg Suro 2026

Pembukaan Grebeg Suro tahun ini berlangsung meriah dengan penampilan tari kolosal bertajuk “Reogvolution” yang memadukan unsur tradisional dan modern. 

Pertunjukan nampak semakin spektakuler dengan dukungan teknologi 3D Video Mapping yang menghiasi panggung utama serta pesta kembang api yang memukau ribuan pengunjung yang memadati kawasan alun-alun.

Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah Festival Reog Remaja (Trofi Suromenggolo) yang akan berlangsung pada 7–10 Juni 2026. 

Setelah itu, kemeriahan berlanjut melalui Festival Nasional Reog Ponorogo (Piala Presiden) yang dijadwalkan berlangsung pada 11–14 Juni 2026 dengan menghadirkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Grebeg Suro bukan hanya ajang melestarikan budaya saja, tapi, juga menjadi momentum penguatan ekonomi masyarakat.


Bupati Ponorogo, Hj. Lisdyarita, S.H., Bersama Jajaran Forkopimda, Saat Pembukaan Grebeg Suro 2026 Di panggung Utama Alun-alun Ponorogo

"Pemerintah Kabupaten Ponorogo". 

Dengan disediakannya area khusus bagi pelaku UMKM serta fasilitas videotron promosi diharapkan mampu membantu memperluas pemasaran produk ekonomi kreatif lokal kepada wisatawan dan masyarakat yang hadir.

Dengan Rangkaian kegiatan Grebeg Suro 2026, yang berlangsung hingga 15 Juni 2026, diharapkan Festival tahunan ini terus menjadi magnet wisata budaya nasional sekaligus memperkuat identitas Ponorogo sebagai kota asal kesenian Reog yang telah mendapat pengakuan luas di tingkat internasional.

Dengan agenda Grebeg Suro 2026, ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata, menggerakkan perekonomian daerah, serta memperkenalkan kekayaan budaya Ponorogo, secara luas.

(Gst)

Share:

Jumat, 15 Mei 2026

Gelar Kesenian Gong Gumbeng Rangkaian Kegiatan Bersih Desa Wringinanom

Ritual Kenduri Adat Di Telaga Mantili Dirja

Lini Indonesia, Ponorogo - Gong Gumbeng merupakan kesenian musik tradisional khas Ponorogo yang sakral dan berasal dari Dukuh Banyuripan, Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit. 

Kesenian ini selalu menjadi instrumen utama dalam upacara Bersih Desa (Merti Desa) sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada Leluhur (Danyang) yang diwariskan secara turun temurun sejak dulu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya bersama-sama masyarakat, Pemerintah Desa Wringinanom menggelar acara Bersih Desa sebagai wujud syukur dan tolak bala agar terhindar dari Musibah dan Paceklik.

Maka digelar ritual adat telaga Mantili Dirja, kesenian Gong Gumbeng, bertempat di Telaga Mantili Dirja, Jum'at, (15/05/2026).

Dalam tradisi tersebut diadakan kesenian Tari Tayub dengan diiringi irama musik Gong Gumbeng.


Sutini Kepala Desa Wringinanom Memberi Sambutan

Tampak hadir pada acara tersebut, Camat Sambit, Boby Aji Antoni Andy Charolli, S.STP, M.Si. beserta jajaran Forkopimcam Sambit, Kepala Desa Wringinanom, Sutini, beserta jajaran Perangkatnya, Tokoh Masyarakat, beserta Masyarakat Desa Wringinanom.

Dalam kesempatan ini Kepala Desa Wringinanom, Sutini menyampaikan, Rangkaian acara Bersih Desa tahun ini kami menggelar berbagai acara tradisi mulai, Khataman Al'quran, Dzikir Ghofilin, Ziarah Makam Leluhur, Ritual Adat Duk Sumur, Istighosah.

Selain itu Ritual Adat Jatiroso, Ritual Adat Telaga Mantili Dirja. Puncak ruwatan  dilanjutkan dengan kesenian wayang kulit.

Sutini juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan warga masyarakat yang telah mendukung jalannya acara tersebut. 

"Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, yang telah kompak, bekerja keras sehingga acara demi acara berjalan lancar dan juga kepada masyarakat Desa Wringinanom yang telah mendukung semua kegiatan ini sehingga sukses," ujar Sutini.


Camat Sambit, Boby Aji Antoni Andy Charolli, S.STP, M.Si., Memberi Sambutan Dalam Rangka Bersih Desa Wringinanom

Sementara Camat Sambit, Boby Aji Antoni Andy Charolli, S.STP, M.Si., dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Wringinanom, karena musik Gong Gumbeng tersebut satu-satunya di Ponorogo. 

"Apresiasi kepada Pemerintah Desa Wringinanom dan masyarakat, telah melestarikan kesenian Gong Gumbeng, merupakan satu-satunya budaya yang ada di Kabupaten Ponorogo,"  ujar  Boby Aji Antoni Andy Charolli, S.STP, M.Si.


Tarian Tayub Diiringi Irama Musik Dari Gong Gumbeng Asal Desa Wringinanom, Sambit, Ponorogo

"Marilah, satu-satunya kesenian yang ada di Ponorogo ini kita lestarikan dan kita kembangkan kepada generasi muda agar kesenian ini nantinya tidak hilang," pungkasnya.

(Gst)

Share:

Minggu, 10 Mei 2026

Parade Sholawat Cah Dalanan Dalam Rangka Bersih Desa Jambon

Kepala Desa Jambon Munarsih Didampingi Anggota DPRD Kabupaten Ponorogo Dari fraksi Golkar, Kateni S.H., Memberikan Sambutan Saat pemberangkatan Parade Sholawat Cah Dalanan

Lini Indonesia, Ponorogo - Parade sholawat sering diadakan sebagai rangakian acara Bersih Desa /Sedekah Bumi di berbagai daerah. 

Kegiatan ini bertujuan memperkuat rasa syukur atas berkah, mendoakan leluhur, serta memohon keselamatan dari bala/wabah. Acara ini menggabungkan nuansa Religi dan Tradisi Lokal.

Pemerintah Desa Jambon, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, menggelar acara Parade Sholawat Cah Dalanan, mulai dari perempatan Jangglengan (Depan KUA Jambon) berjalan menuju Taman Desa Jambon, yang diberangkatkan oleh Kepala Desa Jambon, Munarsih, pada Minggu, (10/05/2026).

Acara tersebut diikuti oleh warga masyarakat, seluruh siswa sekolah dan guru dari sekolahan yang ada didesa Jambon juga seluruh organisasi pencak silat yang ada di Desa Jambon.


Kepala Desa Jambon Munarsih Memimpin Pemberangkatan Parade Sholawat Cah Dalanan

Acara Parade Sholawat Cah Dalanan, tersebut nampak lebih semarak dengan  dimeriahkannya oleh kesenian Unta-untaan Ronggo Besari dari Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis dan Gajah-gajahan dari Desa Blembem, Kecamatan Jambon.

Masyarakat sangat antusias mengikuti dan menyaksikan acara tersebut.

Dalam sambutannya saat memberangkatkan Parade Sholawat Cah Dalanan tersebut Kepala Desa Jambon, Munarsih, mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada panitia dan masyarakat yang telah mendukung dan ikut serta pada acara Parade Sholawat Cah Dalanan tersebut, juga kepada masyarakat yang telah ikut menyaksikan acara tersebut. 

"Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap panitia dan seluruh warga masyarakat yang telah mendukung dan ikut serta pada acara Parade Sholawat Cah Dalanan sore ini". 

"Terima kasih juga kepada seluruh yang hadir untuk menyaksikan acara Parade Sholawat Cah Dalanan sore ini," ungkap Munarsih.


Seni Unta-untaan Ronggo Besari Dari Desa Tegalsari, Ikut Menyemarakkan Parade Sholawat Cah Dalanan

Kepada awak media Kepala Desa Jambon, Munarsih, menyampaikan, bahwa acara bersih desa tersebut bukan hanya sekedar rutinitas biasa, tapi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah, S.W.T., atas nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat Desa Jambon dan do'a (Harapan) diberikannya keselamatan, keberkahan dan kemudahan serta dijauhkan dari  musibah. 

"Acara Bersih Desa ini bukan hanya sekedar acara rutinitas tahunan, tapi ini sebagai wujud syukur atas nikmat yang Allah, S.W.T., berikan kepada seluruh masyarakat Desa Jambon". 

"Semoga ke-depannya masyarakat Desa diberikan perlindungan, keselamatan, kesehatan, dilancarkan rejekinya, dimudahkan urusannya, serta dijauhkan dari musibah dan diberikan kemakmuran". 

"Sehingga Desa Jambon menjadi desa yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur," ungkap Munarsih.


Kesenian Gajah-gajahan Dari Desa Blembem Turut Serta Menyemarakkan Parade Sholawat Cah Dalanan

"Dan tidak kalah pentingnya, acara ini juga sebagai sarana silaturohmi dan memupuk rasa kebersamaan dan kekompakan masyarakat," tambahnya.

Munarsih juga menyampaikan sebagai puncak acara bersih desa, Desa Jambon, akan digelar juga Majelis Dzikrul Ghofilin.

"Dan sebagai puncak acara nanti malam juga akan diadakan Majelis Dzikrul Ghofilin Mantap, yang akan diadakan di Taman Desa Jambon." pungkasnya.

(Gst)

Share:

Senin, 04 Mei 2026

Majlis Dzikir Ghofilin Dalam Tradisi Bersih Desa Gandu

Majlis Dzikir Ghofilin, Dalam Rangka Bersih Desa, Desa Gandu, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo

Lini Indonesia, Ponorogo - Suasana religius dan penuh kekhidmatan menyelimuti Balai Desa Gandu, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, pada Senin (malam)(4/5/2026). 

Ratusan warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan Majelis Dzikirul Ghofilin yang digelar dalam rangka tradisi tahunan Bersih Desa.

Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Camat Mlarak, Joko Setiawan, S.Stp., MSi., beserta jajaran Forkopimcam Mlarak,    sebagai bentuk dukungan   terhadap pelestarian tradisi bernuansa religius yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Acara diawali dengan pengajian yang disampaikan oleh K.H., Abdussami' Hasyim, dari Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Tinatan, Ponorogo, menambah suasana religius dan memberikan siraman rohani bagi para jama'ah yang hadir.

Selanjutnya, para jama'ah mengikuti dzikir dan do'a bersama (Dzikirul Ghofilin) sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan bagi seluruh warga Desa.

Tradisi Bersih Desa Gandu sendiri merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan  secara rutin tiap tahun. 

Selain menjadi wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta memperkuat nilai-nilai spiritual masyarakat.


Masyarakat Sangat Antusias Mengikuti Acara Majlis Dzikrul Ghofilin

Dalam sambutannya,  Kepala Desa Gandu, Muhammad Nasrulloh menyampaikan, apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. 

Ia menegaskan, tradisi Bersih Desa yang dikemas dengan kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun harmoni sosial dan memperkuat keimanan masyarakat.

“Kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi merupakan wujud nyata rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antar warga". 

"Saya sangat mengapresiasi semangat gotong-royong dan kekompakan segenap panitia dan para donatur yang telah membantu terlaksanya kegiatan ini". 

"Juga kepada masyarakat Desa Gandu, yang telah mendukung dalam melestarikan tradisi positifnya ini,” ujarnya.

 (Gst)

Share:

Menggelar Kesenian Reog, Dalam Rangka Bersih Desa Belang

             Mantan Kades Belang, Welas

Lini Indonesia, Ponorogo - Menggelar Kesenian Reog dalam rangkaian Bersih Desa merupakan tradisi budaya yang diselenggarakan masyarakat sebagai wujud syukur atas nikmat yang didapatkan dan memohon keselamatan. Acara ini biasanya menjadi rangkaian perayaan, yang juga bertujuan untuk menolak bala atau menjauhkan Desa dari malapetaka.

Seperti yang digelar di Desa Belang, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, pada Senin, (04/05/2026), dalam rangka rangkaian kegiatan bersih desa, Desa Belang.


Arak-arakan Kesenian Reog Dalam Rangka Bersih Desa, Desa Belang

Disampaikan oleh Kepala Desa Belang, Waluyo, bahwa kegiatan telah dimulai Sabtu, malam Minggu (25/04/2026), dengan digelar kesenian jaranan thik. Kesenian reog Ponorogo pada Senin, (04/05/2026) sore dan gajah-gajahan pada malamnya. Sebagai acara puncaknya pada Selasa, (05/05/2026), digelar kesenian wayang kulit, semalam suntuk.

Dengan digelarnya bersih desa tahun ini Kepala Desa Belang, Waluyo, berharap Pemerintahan Desa Belang menjadi damai, ayem-tentrem dan damai.

"Semoga dengan diadakannya Bersih Desa tahun ini, Desa Belang semakin damai, ayem-tentrem, serta masyarakatnya guyub-rukun." ujar Waluyo.


                             Tari jatilan

Sementara mantan Kepala Desa Belang, Welas, saat dikonfirmasi menyampaikan "Dalam kegiatan Bersih Desa ini tidak hanya seremonial, tapi juga mengandung makna do'a atau harapan, untuk mendapatkan perlindungan Allah, S.W.T., dijauhkan dari balak maupun segala gangguan. 

Juga sebagai sarana memupuk kebersamaan dan kekompakan warga masyarakat Desa Belang, agar tercipta kerukunan sesama masyarakat," jelas Welas.


Gelar Kesenian Reog Ponorogo Dalam Rangka Bersih Desa, Desa Belang

Dalam pagelaran kesenian reog tersebut mengundang antusias masyarakat untuk ikut menyaksikan dan ambil peran dalam rangka bersih desa, Desa Belang. 

Dengan antusias masyarakat yang tinggi Welas merasa terharu. "Saya merasa terharu dengan semangat dan kekompakan masyarakat, semoga ini semua menjadi wujud rasa syukur masyarakat, sehingga diterima oleh Allah, S.W.T., dan mendapatkan limpahan nikmat, sehingga masyarakat  Desa Belang menjadi masyarakat yang, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur." Pungkas mantan Kades Belang, Welas. 

(Gst)

Share:

Kamis, 26 Maret 2026

Gelar Kesenian Wayang Dalam Rangka Bersih Desa, Tegalombo

Kades Tegalombo Gatot Sudibyo, Memberi Sambutan Dalam Rangka Bersih Desa, Desa Tegalombo

Lini Indonesia, Ponorogo - Bersih Desa atau Merti Desa merupakan tradisi adat Jawa, yang sudah turun-temurun berupa selamatan atau kenduri massal sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan YME atas segala nikmat yang diberikan. 

Ritual ini juga bertujuan membersihkan desa dari hal negatif, memohon berkah, serta mempererat gotong-royong warga. 

Pemerintah Desa Tegalombo bersama masyarakat menggelar acara Bersih Desa, dengan mengadakan pagelaran wayang kulit. 

Pagelaran wayang kulit yang diadakan di halaman Balai Desa di Desa Teglombo, pada Rabu (25/03/2026), dengan menampilkan dalang Ki Guritno Purbo Carito, yang menceritakan lakon Pandowo Bangun Candi Saptohargo.


Kades Tegalombo, Menyerahkan Secara Simbolis Tohoh Wayang Kepada Ki Dalang Guritno Purbo Carito Sebagai Tanda Pagelaran Wayang Kulit Bisa Di Mulai

Dalam sambutannya Kades (Kepala Desa) Tegalombo, Gatot Sudibyo, S.H., menyampaikan, terima kasih kepada  seluruh warga masyarakat Desa Tegalombo dan serta bagi yang hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut. Juga kepada seluruh donatur, sehingga pelaksanaan Bersih Desa bisa berjalan.

"Saya sampaikan terima kasih kepada masyarakat Desa Tegalombo dan seluruh yang hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit, dalam rangka Bersih Desa, Desa Teglombo". 

"Juga kepada seluruh donatur, baik itu para Pengusaha, Tokoh Masyarakat, ASN yang ada di Desa Teglombo, maupun para pekerja migran dari Desa Tegalombo yang berada di luar negeri." ujar Gatot Sudibyo.

"Semoga para pekerja migran dari Desa Tegalombo diberikan kelancaran dalam bekerja di luar negeri dan diberikan keselamatan." do'a Gatot Sudibyo.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh perangkat Desa Tegalombo dan panitia pelaksanaan bersih desa tersebut. 

"Terlebih terima kasih kepada seluruh perangkat Desa Tegalombo dan panitia pelaksanaan Bersih Desa, sehingga Bersih Desa tahun ini bisa berjalan lancar," tambahnya.

Menyinggung dengan adanya program Pemerintah, terkait Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kepala Desa Tegalombo mengajak kepada masyarakat warga Desa Tegalombo untuk ikut mendukung dan bergabung sebagai anggota Koperasi Desa Merah Putih tersebut.



Tampak hadir dalam menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut diantaranya, Camat Kauman, Toni Khristiawan ,S.STP ,M.Si, Babinsa, Babinkamtibmas, para Kepala Desa Se- kecamatan Kauman, Tokoh Masyarakat, serta sejumlah undangan lainnya dan masyarakat Desa Tegalombo sekitarnya.

"Dengan diselenggarakan Bersih Desa tersebut diharapkan terwujudnya kebersamaan, pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat". 

"Kami berharap Desa Tegalombo dapat menjadi desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur-negeri yang baik, makmur, dan mendapat ampunan serta ridha dari Allah SWT,” harap Kades Tegalombo.

(Gst)

Share:

Minggu, 08 Maret 2026

Polsek Pronojiwo Amankan Upacara Melasti Umat Hindu Di Pantai Watu Godeg Lumajang


Lini Indonesia, Lumajang – Personel Polsek Pronojiwo Polres Lumajang melaksanakan pengamanan dan pengawalan kegiatan Upacara Melasti yang digelar umat Hindu di Pantai Watu Godeg, Desa Bulurejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Minggu (8/3/2026).

Upacara Melasti yang juga dikenal dengan prosesi Mendhak Tirta tersebut diikuti oleh umat Hindu dari Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, serta dari Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan menyambut Hari Raya Nyepi.



Ratusan umat Hindu tampak khidmat mengikuti prosesi yang berlangsung di kawasan pantai tersebut. Mereka membawa berbagai perlengkapan upacara dan sesajen sebagai bagian dari ritual penyucian diri serta alam semesta sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib, personel Polsek Pronojiwo diterjunkan melakukan pengamanan di sekitar lokasi upacara, termasuk pengaturan arus lalu lintas dan pemantauan situasi di area pantai.

Kapolsek Pronojiwo AKP Soegeng Susanto mengatakan, pengamanan dilakukan sebagai bentuk pelayanan Polri kepada masyarakat agar kegiatan keagamaan dapat berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.

“Polsek Pronojiwo melaksanakan pengamanan dan pengawalan kegiatan Upacara Melasti umat Hindu di Pantai Watu Godeg. Pengamanan ini dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif,” ujar AKP Soegeng Susanto.



Ia menambahkan, pihaknya juga berkoordinasi dengan panitia kegiatan serta tokoh masyarakat setempat guna mendukung kelancaran pelaksanaan upacara.

Menurutnya, kegiatan pengamanan ini merupakan wujud komitmen Polri dalam menjaga toleransi antarumat beragama serta memberikan rasa aman kepada masyarakat yang menjalankan ibadah.

“Kami ingin memastikan umat Hindu dapat menjalankan rangkaian ibadah menjelang Hari Raya Nyepi dengan aman dan nyaman. Ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama di wilayah Lumajang,” tambahnya.

Selama pelaksanaan kegiatan, situasi di lokasi upacara terpantau aman, tertib, dan kondusif. Prosesi Melasti berlangsung dengan khidmat hingga selesai tanpa adanya gangguan keamanan.

Dengan adanya pengamanan dari pihak kepolisian, kegiatan keagamaan yang diikuti umat Hindu dari beberapa wilayah tersebut dapat berjalan lancar serta mendapat apresiasi dari masyarakat dan para peserta upacara.

(Eksan) 

Share:

Minggu, 15 Februari 2026

Pranatacara (MC) Penganten Adat Jawa, Barisan Terdepan Dalam Pelestarian Budaya Jawa


Lini Indonesia, Magetan - Pranatacara (MC) penganten adat Jawa sebagai barisan terdepan dalam pelestarian budaya Jawa". Bupati Magetan memberi sambutan yang dibacakan Joko Trihono Kadin Budpar Magetan, dalam acara Wisuda siswa MC penganten, di Surya Graha Kabupaten Magetan. Minggu (15/02/26).

Pemerintah dalam hal ini menyambut baik kegiatan paguyuban Pranatacara Magetan, mengingat kegiatan seperti ini dapat mempertahankan adat Jawa sesuai kepribadian yang tumbuh di tengah masyarakat Magetan.



Menurut Ketua Umum Paguyuban Pranatacara (MC) Magetan, Setyo Nuhari mengatakan, dalam melestarikan Bahasa Jawa dan tradisi Penganten Jawa di kota Magetan telah mengadakan kursus Pranatacara angkatan ke 2 dengan mewisuda 48 orang Se-kabupaten Magetan pada Pasinaon Pranatacara Bergada 2, jelasnya.

Ketua DPRD kabupaten Magetan Suratno, menyambut baik dengan memberikan masukan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk bisa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan agar ijasah yang diberikan kepada para wisudawan dapat memberikan kekuatan secara hukum.

Din Budpar bisa mengambil langkah ke depan dengan mendatangkan dari Keraton Solo sebagai wacana Magetan tidak ketinggalan dengan tradisi Mataram mengingat Magetan yang memiliki tradisi Mataraman.



Paguyuban Pranatacara dibawah naungan Din Budpar Kabupaten Magetan bertekad menjaga kelestarian bahasa Jawa melalui kegiatan (MC) pranatacara penganten  tradisi Jawa termasuk kesenian Jawa yang harus tetap dijaga kelestariannya.

Selanjutnya, diharapkan tradisi penganten di Magetan memiliki kekhasan tersendiri dan masyarakatnya tidak meninggalkan tradisi dalam melaksanakan kegiatan tradisi Jawa yang menurut nenek moyang sangat sakral. 

(Sudi)

Share:

Selasa, 20 Januari 2026

Gelar Wayang Kulit Sebagai Puncak Acara Bersih Desa Nambak

Camat Bungkal Wasis, AP. M.Si., Memberi Sambutan Pada Acara Bersih Desa Di Desa Nambak

Lini Indonesia, Ponorogo - Bersih Desa adalah upacara adat tahunan di Jawa, sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas rezeki dan keselamatan, penghormatan pada arwah leluhur (Danyang) serta upaya spiritual membersihkan Desa dari energi negatif dengan Ritual Selamatan, Do'a Bersama dan Sedekah Bumi (Tumpengan), seringkali diakhiri dengan kesenian seperti Pagelaran Wayang Kulit.

Seperti yang dilaksanakan di Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, bertempat di rumah Kepala Desa Nambak, Tugimin, menggelar acara Pagelaran Wayang Kulit sebagai puncak acara Bersih Desa, Senin (19/01/2025) malam.

Pagelaran Wayang Kulit dengan menampilkan dalang Ki Purbo Sasongko, dengan menceritakan lakon "Sesaji Raja Suya".

Disamping itu sebagai puncak acara Bersih Desa, juga wujud melestarikan Seni Budaya Jawa, sekaligus menjadikannya sarana mempererat kebersamaan warga.


Jajaran Forkopimcam Bungkal Bersama Kepala Desa Se-kecamatan Bungkal, Turut Menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit Dalam Rangka Bersih Desa Di Desa Nambak

Camat Bungkal, Wasis, AP. M.si., yang hadir pada acara tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara kepada semua Pemerintah Desa serta warga Desa Nambak yang masih peduli dan turut melestarikan Adat Budaya Bangsa.

“Terima kasih, Pemerintah Desa Nambak beserta seluruh warga telah lestarikan Kesenian Wayang Kulit, supaya tidak hilang dengan adanya kemajuan zaman yang semakin modern". 

"Mari bersama-sama kita nikmati pagelaran wayang ini dengan hati gembira.” ungkapnya.

Nampak hadir menyaksikan pagelaran wayang kulit, dalam rangka bersih desa, Desa Nambak tersebut diantaranya, Camat Bungkal, Wasis, AP. M.Si. beserta jajaran Forkopimcam Kecamatan Bungkal, anggota DPRD Kabupaten Ponorogo dari fraksi PDIP, Siswandi, Kepala Desa Se-kecamatan Bungkal, juga beberapa undangan lainnya.


Anggota DPRD Kabupaten Ponorogo, Siswandi, Turut Menyemarakkan Acara Pagelaran Wayang Kulit Di Desa Nambak, Dengan Melantunkan Gending Prau Layar

Ratusan warga Desa Nambak dan sekitarnya tampak hadir dan antusias untuk menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit tersebut.

Pagelaran wayang tersebut merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Bersih Desa di Desa Nambak. Disampaikan oleh Kepala Desa Nambak, Tugimin, sebelumnya telah diadakan berbagai kegiatan diantaranya : Pagelaran Kesenian Gajah-gajahan, Kesenian Reog Ponorogo, Istighosah dan sebagai puncaknya Kesenian Wayang Kulit.


Pagelaran Wayang Kulit Dalam Rangka Bersih Desa Di Desa Nambak Menampilkan Ki Dalang Purbo Sasongko, Menceritakan Lakon "Sesaji Raja Suya"

Kepala Desa Nambak berharap dengan digelarnya Bersih Desa ini masyarakat Desa Nambak, selalu mendapat perlindungan Allah, Sejahtera dan Guyub-rukun.

“Bersyukur malam ini masyarakat Desa Nambak menggelar Bersih Desa. Mugi-mugi Desa Nambak, diparingi Berkah, Sehat, Panjang Umur, Rukun, Sejahtera, Putra putrinipun Soleh-solehah, lan Mulyo Sedoyo,” pungkasnya. 

(Gst)

Share:

Sabtu, 17 Januari 2026

Program Buka Djagad Anyar Siap Digulirkan, Kolaborasi Nasional Wujudkan Kawasan Mandiri


Lini Indonesia, Surabaya – Komitmen PT. Trofi Fajar Timur Sakti dalam merealisasikan program strategis Buka Djagad Anyar kian matang. 

Program kolaboratif ini mendapat dukungan penuh dari PT. Jawapes Indonesia Semesta, Firma Kantor Jasa Consultant Nasional, PT. Tritunggal Aji Jaya, PT. Hilal Vina Jaya, serta PT. Karya Inti Nusantara Makmur.

Program Buka Djagad Anyar dirancang sebagai gerakan terpadu pengembangan UMKM, wisata edukasi berbasis budaya, serta ketahanan pangan berkelanjutan. 

Program ini juga memfasilitasi akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha yang memenuhi ketentuan, dengan dukungan kementerian terkait desa tertinggal.

Selain dukungan korporasi, program ini diperkuat oleh Yayasan Jawapes Indonesia Emas, Yayasan Wangsa Negara, Yayasan Djagad Surya Krahayon, serta Yayasan Surya Trisno Sejati.

Direktur Utama PT. Trofi Fajar Timur Sakti, M. Samsul, menegaskan bahwa seluruh kesepakatan strategis telah rampung. Kerja sama dengan mitra, termasuk sejumlah bank pendukung KUR, telah disepakati dan siap dilaksanakan.

“Kesepakatan kerja sama sudah dilakukan seluruhnya, kini tinggal masuk tahap pelaksanaan teknis di lapangan,” tegas Samsul, Sabtu (18/01/2026).

Direktur Utama PT. Jawapes Indonesia Semesta, Rizal Diansyah Soesanto, ST, CPLA, menyatakan program ini bertujuan membangun kawasan mandiri yang berkelanjutan.

“Buka Djagad Anyar diarahkan untuk membangun kawasan mandiri dengan mengedepankan kearifan lokal sebagai kekuatan ekonomi dan identitas masyarakat,” ujar Rizal melalui pesan WhatsApp nya.

Direktur Utama Firma Kantor Jasa Consultant Nasional, Marhaban, menambahkan, program ini berskala nasional.



“Pelaksanaan awal dimulai dari Pacet Mojokerto, kawasan Kawi Malang, dan Jogorogo Ngawi,” jelasnya.

CEO PT. Tritunggal Aji Jaya, Dr. Suwito, S.H., M.H., menjelaskan, rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 4 Desember 2025 melalui prosesi ruwatan di setiap lokasi pembangunan.

“Ruwatan merupakan doa bersama dan penghormatan terhadap nilai budaya serta kearifan lokal agar pembangunan berjalan selaras dan membawa manfaat bagi masyarakat,” terangnya.

Prosesi ruwatan dikemas sebagai edukasi budaya yang menampilkan wayang kulit, reog, bantengan, jaranan, barongsai, serta tasyakuran atau tumpengan sebagai wujud rasa syukur.

Dari sisi teknis, Direktur Utama PT Hilal Vina Jaya, Harja, memastikan seluruh persiapan telah matang.

“Perencanaan kawasan, layout lokasi, hingga Rencana Anggaran Biaya atau RAB sudah disusun dan siap dieksekusi,” ungkapnya.

Ketua Yayasan Djagad Surya Krahayon, Bunda Rini Condro Kirono, menegaskan bahwa pengelolaan wisata akan melibatkan masyarakat desa.

“Kami telah menyepakati kerja sama pengelolaan wisata dengan BUMDes dan membuka ruang kolaborasi bagi pihak-pihak yang ingin berpartisipasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Surya Trisno Sejati, Riaman, menyampaikan bahwa kegiatan budaya akan terus digelar sebagai penguatan identitas kawasan.

“Besok, Minggu (19/01/2026), kami menggelar Djagad Surya Trisno Sejati di Dusun Losari, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang,” ujarnya.

Acara diawali kirab budaya reog, bantengan, dan barongsai, dilanjutkan sambutan serta prosesi potong tumpeng. Kegiatan ini juga menjadi momentum penandatanganan kerja sama pengelolaan Djagat Winggit, Djagat Budaya, dan Djagat Palet Wisata UMKM di kawasan Kawi Mahardika, Malang.

“Acara ini menghadirkan pembicara tokoh budaya nasional, Eyang Prof. Djatkusumo atau Mbah Djito Akar Mojo, yang akan menyampaikan nilai kebudayaan dan filosofi kemandirian kawasan,” pungkas Riaman.

Gelombang dukungan terhadap program Buka Djagad Anyar terus menguat dengan bergabungnya Paguyuban Papan Kasunyatan Bhawana Tunggal, Padepokan Semut Gliyeng, Madura Asli (MADAS), Nuswantoro Bangkit, Padepokan Sabdo Jagat Sejati, serta Yayasan Reksoati Caktya Jati Nusantara.

Jika rakyat bersatu dan saling mengisi dalam mengolah potensi daerah menjadi kawasan mandiri, maka ketergantungan terhadap pihak luar dapat ditekan, lapangan kerja tercipta, ekonomi lokal tumbuh kuat, serta kesejahteraan masyarakat meningkat secara berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri budaya dan kearifan lokal.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi model pembangunan nasional berbasis budaya, ekonomi kerakyatan, dan kemandirian desa yang berkelanjutan. 

(Dedy)

Share:

Minggu, 02 November 2025

Gelar Reog Desa Se-kecamatan Dalam Rangka Gebyar Budaya Joyonegoro Tahun 2025

Kades Mojopitu Didik Setiawan, Ketua Panitia Kegiatan Memberikan Sambutan

Lini Indonesia, Ponorogo - Gebyar budaya Joyonegoro diadakan untuk mengenang jasa Eyang Joyonegoro, Adipati Gadingrejo yang merupakan pendiri Ponorogo Selatan.

Gelar Reog Desa Se-kecamatan Slahung merupakan rangkaian dari kegiatan Gebyar Budaya Joyonegoro tahun 2025, yang digelar di lapangan Joglo Pule, Desa Nailan, pada Minggu (02/11/2025).

Hadir pada acara tersebut Camat Slahung, Nur Huda Rifai, S.STP., M.Si., beserta jajaran forkopimcam Kecamatan Slahung, Kepala Desa Se-kecamatan Slahung beserta perangkatnya, serta masyarakat Slahung dan sekitarnya.



Acara yang digelar dalam kondisi cuaca mendung dan hujan gerimis, tidak mengurangi semangat dan antusias para pemain dan pandemen kesenian Reyog Ponorogo.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Mojopitu, Didik Setiawan, selaku Ketua Panitia mohon maaf dan mengucapkan terima kasih dengan digelarnya acara tersebut. 

"Kami dari panitia mohon maaf sebesar-besarnya dalam pelaksanaan Gelar Reog Desa Se-kecamatan dalam rangka Gebyar Budaya Joyonegoro ini, dalam kondisi hujan seperti ini". 

Dan juga saya ucapkan terima kasih kepada seluruh Kepala Desa Se-kecamatan Slahung, juga kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan acara Gelar Reog Desa Se-kecamatan dalam rangka Gebyar Budaya Joyonegoro tahun 2025 ini, sambut Didik Setiawan.


Camat Slahung, Nur Huda Rifai, Memberikan Sambutan Mewakili Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko

Camat Slahung, Nur Huda Rifai, S.STP., M.Si., dalam sambutanya menyampaikan, "Kami sebelumnya minta maaf, karena saya disini mewakili bapak Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, yang pada kesempatan hari ini tidak bisa hadir, karena ada kegiatan yang lain". 

"Saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua panitia yang telah menyelenggarakan Gelar Reog Desa Se-kecamatan Slahung kali ini". 

Bapak Bupati juga titip salam, semoga acara ini berjalan lancar hingga selesai. Saya atas nama Bupati sekaligus Pemerintah Kecamatan Slahung juga mengucapkan terima kasih kepada semua.


Jajaran Forkopimcam Kecamatan Slahung, Kepala Desa Se-kecamatan Slahung Dan Pengunjung

"Utamanya kepada Bapak-ibu Kepala Desa Se-kecamatan Slahung yang telah nyengkuyung, juga kepada semua sponsor yang telah mendukung kegiatan tersebut," sambut Camat Slahung.

Nur Huda Rifai juga menyampaikan, "kegiatan ini tidak hanya menggelar Reog Desa Se-kecamatan itu saja, tetapi telah diawali sejak beberapa hari yang lalu". 

Mulai diadakannya kegiatan lomba Desain Logo Joyonegoro, Simakan Al-Qur"an, Istighosah, Joyonegoro Fun Run yang diselenggarakan pagi tadi.


Masyarakat Sangat Antusias Menyaksikan Gebyar Reog Desa Se-kecamatan Dalam Gelar Budaya Joyonegoro

Sekarang gelar Reog Desa Se-kecamatan Slahung dan masih akan diteruskan hingga puncak acara akan digelar Pawai Budaya Joyonegoro, pada tanggal 8 November 2025," ujar Nur Huda Rifai.

"Mari kita dukung bersama kegiatan Gebyar Budaya Joyonegoro kali ini, juga untuk kegiatan apa saja yang ada di Kecamatan Slahung ini," pungkasnya.

(Gst)

Share: