Lini Indonesia, Jakarta - Di tengah disahkannya Perubahan Ketiga Undang-undang Kepolisian, ada satu penghargaan yang dianggap menjadi cerminan semangat perbaikan tersebut.
"Hoegeng Award hadir bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata bahwa nilai-nilai kejujuran dan pengabdian masih hidup di tubuh institusi Polri".
"Penghargaan ini dinamakan untuk mengenang Jenderal Hoegeng Imam Santoso".
"Ia adalah mantan Kepala Kepolisian Negara yang melegenda karena ketegasannya menolak korupsi dan tekanan kekuasaan politik".
"Namanya kini menjadi simbol standar tertinggi integritas yang diidamkan seluruh Jajaran Kepolisian".
Hoegeng Award pertama kali digelar pada tahun 2022. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan media massa, dengan mekanisme yang terbuka dan transparan.
Siapa saja, termasuk masyarakat umum, dapat mengusulkan nama anggota polisi yang dianggap layak menerima penghargaan tersebut.
Ada lima kategori yang dipertandingkan dalam ajang ini. Di antaranya Polisi Berintegritas, Polisi Inovatif, Polisi Berdedikasi, Polisi Pelindung Perempuan dan Anak, serta Polisi yang bertugas di daerah tapal batas dan pedalaman.
Yang membedakan penghargaan ini dengan yang lain adalah proses penilaiannya.
Tidak hanya dilihat dari laporan internal, tim penilai yang terdiri dari pakar independen turun langsung ke lapangan.
Mereka memverifikasi kinerja dan rekam jejak calon penerima agar benar-benar layak menjadi teladan.
Bagi Polri sendiri, Hoegeng Award jelas menjadi momen kebanggaan. Penghargaan ini menjawab pandangan yang sering melukiskan institusi hanya dari sisi buruk oknumnya.
"Di sini, terlihat jelas bahwa masih banyak polisi yang bekerja tulus, jujur, dan mengutamakan kepentingan masyarakat".
Lebih dari sekadar kebanggaan, ajang ini menjadi alat pemulihan kepercayaan publik. Ketika masyarakat melihat ada pengakuan resmi terhadap polisi yang berperilaku baik, jarak antara institusi dan rakyat perlahan bisa menyempit.
Ini juga menjadi motivasi bagi anggota lain untuk meningkatkan kinerja dan menjaga etika.
Hubungan antara Hoegeng Award dengan perubahan Undang-undang Kepolisian yang baru saja disepakati sangat erat. Keduanya memiliki tujuan yang sama, hanya berbeda cara pendekatannya.
Jika Hoegeng Award bekerja dari sisi pembinaan budaya dan nilai, maka undang-undang berperan sebagai payung hukum.
Penghargaan ini menanamkan semangat integritas, sedangkan aturan baru menetapkan standar yang jelas, mulai dari syarat pendidikan, larangan penugasan politik, hingga pengawasan yang lebih ketat.
Dengan begitu, harapannya terbentuk satu kesatuan yang utuh. Hoegeng Award menjadi "jiwa" yang menggerakkan hati, sementara Undang-undang Kepolisian menjadi "kerangka" yang mengatur aturan main.
Keduanya berjalan beriringan untuk mewujudkan Polri yang profesional, netral, dan dicintai segenap rakyat Indonesia.
(Red)







0 komentar:
Posting Komentar